
Makassar Sebagai Kerajaan Kembar GOWA-TALLO
Bermula Raja Gowa ke-IV, Tunatangka Lopi, membagi kerajaanya menjadi dua buah kerajaan, kepada puteranya yang bernama Batara Gowa diserahkannya daerah-daerah Gallarang kerajaan Gowa, yaitu :
1. Gallarang Pacellekang,
2. Gallarang Pattallasang,
3. Gallarang Bontomanai, (sebelah timur),
4. Gallarang Bontomanai, (sebelah barat),
5. Gallarang Tombolo, dan
6. Gallarang Mangasa.
Daerah-daerah Gallarang inilah yang selanjutnya disebut Kerajaan Gowa dibawah Raja ke-VII, yang bernama Batara Gowa.
Kepada puteranya yang bernama Karaeng LoE ri-Sero, diserahkannya daerah-daerah Gallarang kerajaan Gowa, yaitu :
1. Gallarang Saumata
2. Gallarang Panampu
3. Gallarang MoncongloE
4. Gallarang ParangloE
Daerah-daerah Gallarang inilah yang selanjutnya disebut Kerajaan Tallo dibawah Raja Tallo ke-I yang bernama Karaeng LoE ri-Sero.
Dalam pertumbuhan kedua kerajaan kembar ini, walaupun pernah terjadi perang antara keduanya, (pada jaman Raja Gowa ke-IX Tumaparrisi Kallonna dengan Raja Tallo, I Mangngayoang) dengan kekalahan pihak Tallo dan sekutu-sekutunya, namun setelah terjadi perdamaian tetaplah berdirinya kedua kerajaan itu. Dalam tradisi dua kerajaan kembar itu, maka Raja Tallo, selalu menjadi Mangkubumi tradisi dua kerajaan kembar itu, maka Raja Tallo, selalu menjadi Mangkubumi Kerajaan Gowa. Tentu saja dalam perkenbangann selanjutnya peranan kedua kerajaan ini tak dapat lagi dipisah-pisahkan, dan adanya dua nama kerajaan tidaklah menjadi halangan dari perkebangan itu. Pada hakekatnya Gowa dan Tallo, mempunyai rakyat yang satu, dan pemerintahannya pun sesungguhnya satu juga, yaitu Raja dari Gowa dan Mangkubumi dari Tallo yang hanya menjalankan satu peraturan. Menjelang abad ke-XV hampir seluruh negeri orang Makssar telah berada dibawah kekuasaan atau perlindungan kerajaan Gowa- Tallo itu. Terutama dalam abad ke-XVI dibawah kekuasaan Raja Gowa ke_IX dan Raja Gowa ke-X daerah kekuasan kerajaan Gowa telah melampaui wilayah Gowa sendiri dan meliputi hampir seluruh Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Maka pengunjung-pengunjung dari kerajaan lain menamakan Raja Gowa itu, Raja orang Makassar atau Kerajaan Makassar saja, penulis-penulis sejarah kemudian juga menamakan Kerajaan Gowa-Tallo dengan kerajaan Makassar, malahan dalam berbagai buku ditulis tentang kesultanan Makassar, dalam arti sama dengan kesultanan Gowa.
Dalam periode kepemimpinan Raja Gowa ke-IX (tahun 1510 – 1546) Daeng Matanre, Karaeng Mangutungi, Tumaparrisi Kallonna, demikian nama lengkap Raja, terlebih dahulu menjadi Gallarang yang digelar “Kasiang ri-Juru atau Gallarang Loaya”. Baginda menduduki tahta kerajaan selama 36 tahun (1510-1546). Didalam pemerintahannya ditetapkan undang-undang dan peraturan perang. Pada periode ini, pelabuhan Makassar yang merupakan bandar niaga yang tumbuh paling ramai dibagian Timur terutama setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis. Diangkatlah Syahbandar itu masih dirangkap oleh Tumailalang Kerajaan Gowa yang bernama Daeng Pamatte. Daeng Pamatte jugalah yang pertama-pertama menciptakan aksara Lontara.
Dalam periode kepemimpinan Raja Gowa ke-X (1546-1565, Mario Daeng bonto, Karaeng Laiung “Tunipallangga Ulaweng“, demikian nama lengkap Raja Gowa ke-X. dibawah kepemimpinan raja Gowa ke-X ini diadakan penyempurnaan administarsi kerajaan. Kota Makassar dijadikannya sungguh-sungguh sebagai Bandar Niaga yang teratur dengan menetapkan jabatan Syahbandar sebagai jabatan yang terpisah dari jabatan Tumailalang. Baginda Raja “Tunipallangga Ulaweng”, mengangkat dan menetapkan Syahbandar Daeng Tari Mangalle Kana, Ikare Manggaweang sebagai Syahbandar dengan sebutan “Daenta Syahbanaraka”.
Pada periode kepemimpinan Raja “Tunipalangga Ulaweng”, karena makin berkembangnya perdagangan melalui Bandar Makassar, maka para niagawan dari Pahang, Petani, Johor, Campak, Minangkabau, Jawa bahkan orang-orang bangsa Eropa terutama orang Portugis, memohon tempat dan perlindungan Kerajaan untuk membuka perwakilan dagang di Makassar.
Baginda Raja, mengabulkan permohonan para niagawan manca negara itu. Sampai kini kita dapat menyaksikan peninggalan sejarah itu, misalnya pembagian tempat domisili para niagawan itu, maka ada Kampung Melayu, Kampung China, Kampung Arab, Kampung Belanda dan sebagainya.
Demikianlah nama Makassar, sebagai suatu Kerajaan yang melegenda sepanjang sejarah. Tetapi tiba-tiba namanya berubah menjadi Ujung pandang, dan nama Ujung Pandang sempat digunakan sebagai nama Kota ini selama 28 tahun (1971-1999).
Makassar ke Ujung Pandang
Di Era tahun 1970-an, muncul gagasan para petinggi di Makassar untuk melebarkan wilayah kota Makassar sebagai ibukota Propinsi Sulwesi Selatan.
Kolonel Inf. H.M. Daeng Patompo, selaku Walikota Makassar berusaha untuk mendekati 3 (tiga) orang Bupati tetangga Makassar. Kolonel Inf. H. Mas’ud di Gowa, Kolonel Inf. Kasim DM. di Maros dan Kolonel Inf. H.M. Arsyad B. di kabupaten Pangkep.
Ketiga orang Bupati ini mulanya tidak memberi respon positif terhadap gagasan H.M Daeng Patompo untuk mengambil sebagian wilayah ketiga Kabupaten, guna melebarkan wilayah Makassar, apalagi kalau nama Makassar tercantum di dalamnya.
Karena lama tertunda – tunda tentang kesediaan ketiga Bupati itu, maka pimpinan militer di Makassar ikut berusaha melicinkan jalan ke arah rencana tersebut. Tersebutlah Letjen Kemal Idris, Panglima KOWILHAN III, Brigjen A. Aziz Bustam, Panglima KODAM XIV Hasanuddin dan juga Gubernur Sulsel, Mayjen Ahmad Lamo, dan Pangkep betapa pentingnya perluasan wilayah ibukota Propinsi Sulawesi Selatan, tidak dapat dilupakan juga peranan Andi Pangerang Petta Rani, Mantan Gubernur Sulawesi Selatan dalam rangka usha pelebaran wilyah Makassar sebagai ibukota Sulawesi Selatan. Akhirnya ketiga Bupati tersebut menyatakan kesediaanya, syaratnya Makassar menjadi Ujung Pandang.
Wilayah Kota Makassar ibukota Propinsi Sulawesi Selatan bertambah lebar, dari hanya sekitar 25 KM2 menjadi 175 KM2. Lahirlah PP No. 51 Tahun 1971 tentang perubahan batas-batas daerah Kota Makassar dan Kabupaten-Kabupaten Gowa, Maros dan Pangkajene Kepulauan dalam daerah Propinsi Sulawesi Selatan (Lembaran negara RI Tahun 1971 No. 65, tambahan lembaran Negara No. 2970), dan nama Makassar berubah menjadi Ujung Pandang.
Perubahan nama Makassar menjadi Ujung Pandang, melahirkan reaksi dari berbagai kalangan warga masyarakat kota ini, dan berusaha untuk mengembalikan nama kota dari Ujung Pandang menjadi Makassar, sekaligus upaya untuk menemukan hari jadi Makassar yang sesuai dengan kebesaran namanya didalam sejarah bangsa.
Reaksi keras dari berbagai kalangan warga masyarakat dikota ini, dimanifestasikan dalam sebuah petisi 17 Juli 1976 dengan ditandatangani oleh 3 (tiga) orang pakar sejarah dan budayawan didaerah ini, yaitu :
1. Prof. Mr. DR. Andi Zainal Abidin Farid.
2. DR. H.A. Mattulada
3. Drs.H.D. Mangemba
Dengan isi petisi, diminta supaya nama Ujung Pandang dikembaliakn menjadi Makassar demi menegakkan kejujuran, kebenaran dan kelurusan sejarah tanah air Indonesia. Petisi ini ditujukan kepada Walikota Madya KDH Tk-II Ujung Pandang dan DPRD Kotamadya Dati II Ujung Pandang.
Mencari Momentum Hari Jadi Kota Makassar
Dengan kembalinya nama Makassar terhadap kota legendaris ini, dikaitkan dengan hari jadi kota yang selama ini diperingati setiap tanggal 1 April (tahun berjalan) yang dihitung dari saat Staat Geemeente Makassar dianggap tidak memenuhi syarat. Hal ini berdasarkan ordenansi tanggal 12 Maret 1906 (Staatblad nomor 171) daerah otonom Makassar mulai berlaku pada tanggal 1 April 1906.
Dari ordenansi ini juga dibentuklah sebuah dewan sebagai badan pemerintahan untuk Gemeente makassar yang disebut de Gemeente Raad Van Makassar, anggotanya berjumlah 13 orang, terdiri atas 8 orang Belanda, 3 orang Indonesia, dan 2 orang timur asing (Tionghoa).
Dewan ini mengendalikan pemerintahan sampai tahun 1918. Pada tahun 1918 s/d 1927 pemerintahan dipimpin oleh seorang Walikota Makassar bernama J.H Damrink.
Dengan demikian peringatan hari jadi Makassar dulu Ujung Pandang yang diadakan tiap tanggal 1 April, pada hakikatnya memperingati hari mulai terbentuknya sistem pemerintahan kolonial Belanda yang membentuk pemerintahan karena kekuasaan kolonialnya di Makassar. Itu sebabnya dipandang tidak layak diperingati atas nama Makassar, karena Makassar ini suatu nama yang mengandung sejarah yang melegenda di bumi persada Indonesia.
Seminar yang berjudul “A’bulo Sibatang A’bannang Kebo Mengkaji Ulang Sejarah Kelahiran Makassar” pada tanggal 27 Nopember 1999 bertempat di Hotel Sahid Makassar memberi rekomendasi, bahwa rasionalisasi berbagai momentum peristiwa sejarah yang dikemukakan para pakar sejarah dalam seminar itu, didapatkan ada 4 momentum yang patut menjadi pertimbangan untuk dijadikan hari jadi kota Makassar ini.
1. Tahun 1512 (belum ada hari, tanggal dan bulannya)
Tahun ini adalah satu tahun setelah peristiwa jatuhnya Malaka ke dalam tangan Portugis. Tahun ini Raja Gowa ke-IX Daeng Matanre Karaeng Manguntungi Tomapparissi Kallonna, memerintah tahun 1510-1546, sebagai Raja yang menjadikan Makassar sebagai kota Pelabuhan terbuka dan paling ramai di bagian timur.
2. Tahun 1545 (belum ada hari, tanggal dan bulannya)
Tahun ini terkenal Raja Gowa ke-X, I Mario Gau Daeng Bonto karaeng Lakiung yang disebut juga “Tunipalangga Ulaweng”, melanjutkan kebijakan raja pendahulunya, menjadikan Makassar sebagai pelabuhan terbuka. Raja ini yang mendirikan benteng seperti Benteng Ujung Pandang memperkuat benteng Somba Opu, Benteng Panakkukang dan Benteng Anak Gowa. Raja ini meningkatkan peranan syahbandar yang dirangkap Daeng Pamatte yang juga sebagai Tumarilalang Kerajaan Gowa. Raja Gowa ke-X ini mengangkat dan menetapkan Daeng Tari Mangalle Kana (I Kareng Mangngaweang) sebagai Syahbandar Makassar dengan sebutan Daeng Ta Syahbannaraka.
3. Tanggal 22 September 1905
Pada hari Jum'at tanggal 22 September 1605, Raja Tallo yang juga merangkap Mangkubumi Kerajaan Gowa, I Mallingkaang Daeng Manyondri (Sultan Abdullah Awalul Islam ), pertama mengucapkan dua kalimat syahadat dan menerima agama Islam sebagai agamanya. Setelah itu menyusul Raja Gowa I Mangnganrai Daeng Mandra’bia, Sultan Alauddin, juga menerima Islam sebagai agamanya.
4. Tanggal 9 Nopember 1607
Pada hari Jum’at tanggal 9 Nopember 1607, bertepatan dengan hari 19 Rajab 1016 (Hijriah) merupakan peristiwa puncak, ialah penerimaan Islam oleh Raja Gowa / Tallo sebagai agama Kerajaan, sekaligus raja Gowa mengemukakan bahwa walaupun Islam sebagai panutan resmi kerajaan namun semua golongan agama lain di dalam wilayah kerajaan Makassar tetap mempunyai hak yang sama dan mempunyai kebebasan memeluk agamanya masing-masing, berniaga, beribadah menurut agamanya, dan mendapat perlindungan dari kerajaan. Penghargaan terhadap pluralisme, merupakan puncak tertinggi dari masyarakat madani / sipil society yang dipelopori kerajaan Makassar.
Makassar Adalah Serambi Madinah
Dengan pernyataan baginda Raja Gowa bahwa meskipun kerajaan ini menerima agama Islam sebagai agama panutan kerajaan, namun semua golongan agama lain di dalam wilayah Kerajaan Makassar tetap mempunyai hak yang sama dan mempunyai kebebasan beribadah menurut agamanya. Berniaga dan mendapat perlindungan yang sama dari kerajaan, ini merupakan pundak tertinggi dari masyarakat Madani/ sociaty yang dipelopori Kerajaan Makassar.
Salah seorang sejarahwan kebangsaan Inggris bernama C.R Boxer, dalam bukunya berjudul FRANCISCO VIEIRA DE GUEIREDO A PORTUGUESE MERCHANT-ADVENTURER IN SOUTH EAST ASIA 1627-1667; menulis menyatakan keheranannya dan sekaligus kagum, karena menurut perkiraanya apabila kerajaan Makassar menganut agama Islam sebagai agama kerajaan, kemungkinannnya bangsa-bangsa lain yang menganut agama non Islam akan mendapatkan kesulitan didalam kerajaan Makassar, tetapi kenyataannya justru semua orang bangsa lain yang beragama non Islam justru diberi kebebasan dan perlindungan. Pelabuhan Makassar sudah terkenal sejak abad ke-XIV, tetapi belum mencapai kemajuan yang berarti, dan nanti kerajaan Makassar menganut agama Islam, pelabuhan ini mencapai kemajuan yang signifikan, menjadi suatu pelabuhan yang sangat terkenal di benua timur/Asia.
Salah seorang Ulama besar Indonesia, Buya Hamka (Haji Muh. Karim Amrullah), konon pernah mengatakan bahwa manakala kerajaan Makassar menerapkan perhatian kepada menghargai pluralisme, hormat kepada bangsa-bangsa lain yang berniaga di Makassar, dan memberikan kebebasan memeluk dan beribadah menurut agamanya masing-masing, berarti mempraktekkan sifat dan metode Pemerintahan Rasulullah Muhammad SAW pada saat beliau melaksanakan pemerintahan di Madinah, makanya Makassar berhak diberi predikat "Serambi Madinah" sama dengan Aceh dengan predikat "Serambi Mekkah”.
Hari Jadi Kota Makassar
Setelah melalui pembahasan yang cukup lama, anggota DPR-D dan Pemerintah kota Makassar akhirnya menyepakati 9 Nopember 1607 sebagai hari jadi Makassar sebelum kesepakatan ini diambil terjadi pembahasan yang cukup intens ada perbedaan pendapat dalam menetapkan tahun.
Pemerintah Kota Makassar mengusulkan, supaya kelahiran kota Makassar ditetapkan 9 Nopember 1512 alasannya dalam menentukan kelahiran suatu kota tidak hanya ditetapkan dalam suatu momentum sejarah, tetapi harus diformulasikan dengan berbagai momentum.
H. Husni Djamaluddin, salah seorang budayawan dari kota Makassar yang juga sebagai anggota perumus dalam seminar A’bulo Sibatang A’bannang Kebo Mengkaji Ulang Sejarah Kelahiran Makassar, dalam salah satu rapat perumusan Seminar itu, mengatakan didalam menetapkan hari jadi Makassar, mari kita menggunakan tongak sejarah yang paling monumental dan dapat dipertanggungjawabkan kepada generasi kita yang akan datang. Jangan gunakan hari jadi Makassar yang melalui rekayasa karena latar belakang politis, kehendak perorangan, karena hal semacam itu, sama saja dengan sejarah “bohong-bohongan”. Pada hakikatnya, sejarah yang dibuat itu adalah apa yang tertulis seperti yang kita akan laksanakan dalam menetapkan hari jadi kota Makassar, sedangkan yang tidak tertulis itu adalah dongeng belaka.
Setelah melalui pembahasan yang lama dan mempertimbangkan rumusan seminar “A’bulo Sibatang A’bannang kebo Mengkaji Ulang Sejarah Kelahiran Makassar”, di Hotel Sahid Makassar tanggal 27 Nopember 1999, serta masukan dari para pakar sejarah dan budayawan, semua Fraksi sepakat tanggal 9 Nopember 1607 sebagai hari kelahiran kota Makassar.
Walikota Makassar, H.B. Amiruddin Maula, mengatakan penetapan hari jadi Makassar 9 Nopember 1607 adalah tepat sekali, karena kejadian dan momentum masa itu mempunyai makna dan nilai kemanusiaan yang tinggi dan sejarah yang monumental.
Penyusun :
Drs. H. Abdullah Suara, Penasehat Walikota Makassar / Mantan Ketua Panitia Seminar “A’bulo Sibatang A’bannang Kebo Mengkaji Ulang Sejarah Kelahiran Makassar.
Muasal dan Makna Nama Makassar
Di umurnya yang ke-398 tahun, Kota Makassar masih terbilang muda jika dibandingkan sejarah nama Makassar yang jauh menembus masa lampau. Tapi tahukah Anda muasal dan nilai luhur makna nama Makassar itu?
Tiga hari bertufut-turut Baginda Raja Tallo VI I Mallingkaan Daeng Mannye Karaeng Matoaya bermimpi melihat cahaya bersinar yang muncul dari Tallo. Cahaya kemilau nan indah itu memancar keseluruh Butta Gowa lalu ke negeri sahabat lainnya.
Bersamaan di malam ketiga itu, di bibir pantai Tallo merapat sebuah perahu kecil. Layarnya terbuat dari sorban, berkibar kencang. Nampak sesosok lelaki menambatkan perahunya lalu melakukan gerakan-gerakan aneh. Lelaki itu ternyata melakukan sholat. Cahaya yang terpancar dari tubuh Ielaki itu menjadikan pemandangan yang menggemparkan penduduk Tallo, yang sontak ramai membicarakannya hingga sampai ke telinga Baginda Karaeng Matoaya. Di pagi buta itu, Baginda bergegas ke pantai. Tapi tiba-tiba lelaki itu sudah muncul ‘menghadang’ di gerbang istana. Berjubah putih dengan sorban berwarna hijau. Wajahnya teduh. Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya.
Lelaki itu menjabat tangan Baginda Raja yang tengah kaku lantaran takjub. Digenggamnya tangan itu lalu menulis kalimat di telapak tangan Baginda "Perlihatkan tulisan ini pada lelaki yang sebentar lagi datang merapat di pantai,” perintah lelaki itu lalu menghilang begitu saja. Baginda terperanjat. la meraba-raba matanya untuk memastikan ia tidak sedang bermimpi. Dilihatnya telapak tangannya tulisan itu ternyata jelas adanya. Baginda Karaeng Matoaya lalu bergegas ke pantai. Betul saja, seorang lelaki tampak tengah menambat perahu, dan menyambut kedatangan beliau.
Singkat cerita, Baginda menceritakan pengalamannya tadi dan menunjukkan tulisan di telapak tangannya pada lelaki itu. “Berbahagialah Baginda. Tulisan ini adalah dua kalimat syahadat,” kata lelaki itu. “Adapun lelaki yang menuliskannya adalah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassallam sendiri. Baginda Nabi telah menampakkan diri di Negeri Baginda.
Peristiwa ini dipercaya sebagai jejak sejarah asal-usul nama Makassar, yakni diambil dari nama "Akkasaraki Nabbiya", artinya Nabi menampakkan diri. Adapun lelaki yang mendarat di Pantai Tallo itu adalah Abdul Kadir Khatib Tunggal yang dikenal sebagai Datu Patimang. Baginda Raja Tallo I Mallingkaan Daeng Manyonri Karaeng Matoaya sendiri bergelar Sultan Abdullah Awaluddin Awawul Islam Karaeng Tallo Tumenanga ri Agamana. Beliau adalah Raja pertama yang memeluk agama Islam di dataran Sulawesi Selatan.
TIGA TINJAUAN
Lebih jauh, penyusuran asal nama Makassar dapat ditinjau dari beberapa segi, yaitu:
1. Makna.
Untuk menjadi manusia sempurna perlu "Ampakasaraki", yaitu menjelmakan (menjasmanikan) apa yang terkandung dalam bathin itu diwujudkan dengan perbuatan. "Mangkasarak" mewujudkan dirinya sebagai manusia sempurna dengan ajaran TAO atau TAU (ilmu keyakinan bathin). Bukan seperti yang dipahami sebagian orang bahwa "Mangkasarak" orang kasar yang mudah tersinggung. Sebenarnya orang yang mudah tersinggung itu adalah orang yang halus perasaannya.
2. Sejarah.
Sumber-sumber Portugis pada permulaan abad ke-16 telah mencatat nama "Makassar". Abad ke-16 "Makassar” sudah menjadi ibu kota Kerajaan Gowa. Dan pada Abad itu pula, Makassar sebagai ibu kota sudah dikenal oleh bangsa asing. Bahkan dalam syair ke-14 Nagarakertagama karangan Prapanca (1365) nama Makassar telah tercantum.
3. Bahasa.
Dari segi Etimologi (Daeng Ngewa, 1972:1-2), Makassar berasal dati kata "Mangkasarak" yang terdiri atas dua morfem ikat "mang" dan morfem bebas "kasarak". Morfem ikat "mang" mengandung arti: a). Memiliki sifat seperti yang terkandung dalam kata dasarnya. b). Menjadi atau menjelmakan diri seperti yang dinyatakan oleh kata dasarnya. Morfem bebas "kasarak" mengandung (arti: a). Terang, nyata, jelas, tegas. b). Nampak dari penjelasan. c). Besar (lawan kecil atau halus).
Jadi, kata "Mangkasarak" Mengandung arti memiliki sifat besar (mulia) dan berterus terang (Jujur). Sebagai nama, orang yang memiliki sifat atau karakter "Mangkasarak" berarti orang tersebut besar (mulia), berterus terang (Jujur). Sebagaimana di bibir begitu pula di hati.
John A.F. Schut dalam buku "De Volken van Nederlandsch lndie" jilid I yang beracara : De Makassaren en Boegineezen, menyatakan: "Angkuh bagaikan gunung-gunungnya, megah bagaikan alamnya, yang sungaisungainya di daerah-daerah nan tinggi mengalir cepat, garang tak tertundukkan, terutama pada musim hujan; air-air terjun tertumpah mendidih, membusa, bergelora, kerap menyala hingga amarah yang tak memandang apa-apa dan siapa-siapa. Tetapi sebagaimana juga sungai, gunung nan garang berakhir tenang semakin ia mendekati pantai. Demikian pulalah orang Bugis dan Makassar, dalam ketenangan dapat menerima apa yang baik dan indah".
Dalam ungkapan "Akkana Mangkasarak", maksudnya berkata terus terang, meski pahit, dengan penuh keberanian dan rasa tanggung jawab. Dengan kata "Mangkasarak" ini dapatlah dikenal bahwa kalau dia diperlakukan baik, ia lebih baik. Kalau diperlakukan dengan halus, dia lebih halus, dan kalau dia dihormati, maka dia akan lebih hormat.
--------------------------------------------------------------------------------
SEJARAH KOTA MAKASSAR SEBELUM BERDIRINYA KERAJAAN GOWA
Melacak informasi mengenai sejarah Kerajaan Gowa pra-Islam yang dapat diungkap melalui sumber-sumber tertulis, baru ditemukan sekitar abad XIV. Sumber-sumber tersebut, antara lain Lontara’: sumber sejarah yang yang telah umum diketahui keutamannya. Kemudian, Sure' Galigo yang diperkirakan dapat memberi petunjuk tentang keadaan masyarakat dan kebudayaan di Gowa. Dan sumber Portugis yang ditulis oleh Tome Pires dalam bukunya The Suma Oriental.
Diketengahkan bukti sejarah, bahwa jauh sebelum Kerajaan Gowa berdiri, diperkirakan bahwa pada abad ke-XIV di daerah ini sudah dikenal dengan nama Makassar dan masyarakatnya disebut dengan suku Makassar. Sebagai sumber keterangan tertua yang memuat nama Makassar, kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca (1364) menuangkan nama Makassar dalam kutipan Sarga ke-13 dan ke-14 sebagai berikut :
"Muwah tanah: Bantayan pramuka bantayan ien Luwuk tentang
Udamakarkartayadhinikanang sanusaspupul lkangsakasanusa Makassar butu
bangawi Kuni Craliyao mwangi(ng) Selayar Soto Muar"
Kata Makassar yang dimaksud Prapanca tersebut bukanlah nama suatu suku, tetapi nama sebuah negeri yakni negeri Makassar, sebagaimana halnya negeri Bantayan (Bantaeng), Luwuk (Luwu), Butun (Buton), Selayar (Selayar), dan lainnya. Adapun penjelasan Tome Pires dalam catatan perjalanannya pada tahun 1513, cukup detil menggambarkan aktivitas manusia Makassar dan keadaan negeri Makassar itu, sebagai berikut :
"Kepulauan Macacar (Makassar) terdapat kira-kira empat atau lima hari pelayaran lewat pulau yang barn kita sebut Borneo atau Kalimantan, di tengah jalan (dari Melaka) ke Maluku... Ujungnya yang satu hampir mencapai Buton, di atasnya Madura, yang satu lagi meluas sampai jauh ke utara. Orangnya semua kafir; di situ terdapat lima puluh orang raja lebih. Pulau itu mereka berdagang dengan Melaka, Jawa, Borneo, negeri Siam dan juga semua tempat yang terdapat antara Pahang dan negeri Siam...
Mereka punya bahasa sendiri, lain daripada yang lain. Orangnya gagah dan suka berperang. Di situ terdapat banyak bahan makanan. Orang-orang dari pulau itu adalah perampok yang paling besar di dunia, kekuatannya besar dan perahunya banyak. Mereka berlayar untuk merampok dari negeri mereka sampai ke Pegsu, dan dari negeri mereka sampai ke Maluku, Banda dan semua pulau di sekitar Jawa...
Ada pasarnya ke mana mereka mengirim barang-barang rampokan dan menjual budak yang mereka tangkap. Mereka berlayar keliling pulau Sumatera. Pada umumnya mereka bajak laut. Oleh orang Jawa, mereka disebut Bajuus (Bajo) dan orang Melayu menyebut mereka Celates (orang Selat). Barang-barang mereka dibawa ke jJmaia(?), di dekat Pahang, tempat mereka berjualan dan melangsungkan perdagangan secara berkala. Mereka membawa beras yang putih sekali dan sedikit emas. Mereka membawa pulang kain bertanggis, kain dari Cambai dan sedikit dari Benggala dan Keling bersama banyak luban Jawi dan dupa. Pulau itu banyak penduduknya, banyak dagingnya, perbekalan berlimpah-limpah. Lazimnya kaum laki-laki memakai keris, dan mereka kuat-kuat. Mereka berlayar pulang-pergi dan ditakuti dimana-mana, sehab memang semua perampok patuh kepada mereka, sehab memang pantas dipatuhi".
Gambaran Pires tentang Makassar di atas, dipandang sebagai sumber Eropa pertama tentang daerah ini yang bisa memberi informasi yang jelas tentang Makassar.
Seperti halnya yang terdapat di dalam himne bissu di Bone sebagaimana yang ditulis Gilbert Hamonic, nama Makassar telah ada tercantum pada abad ke-9, sebagai berikut :
”..
399. Nasamanrelle raunna
400. Nasama turu'puanna
401. Rau-rau ri Mangkasa
402. Bua tello ri malaju
403. PawelIe liweng ri jawa
404. PamolIo liweng ri Sunra
Nama Mangkasa di atas adalah nama lain dari Makassar yang ikut disebutkan bersama dengan Melayu dan Jawa. Baru kemudian bukti lain menyusul, dalam buku-buku sejarah disebutkan bahwa Kerajaan Makassar adalah sarna dengan Kerajaan Gowa, seperti yang ditulis F.W Stapel, sebagai berikut:
"Tot de alIerbeiangrijkste plaastsen van den
Archipel in het begin van de 17de eeuw behoorde Makassar,
hoofdplIats van het rijk van die naam, ook wel Gowa genomd"
Artinya : Artinya : Di antara tempat-tempat yang paling penting dari kepulauan itu pada permulaan abad XVII adalah Makassar, ibukota sebuah kerajaan dengan nama yang sarna, yang juga dinamakan Gowa.
Sebelum Kerajaan Gowa berdiri, di kalangan suku Makassar Gowa telah bermunculan kerajaan-kerajaan suku Makassar yang lain, seperti Pujananti, Siang, Bantaeng, Marusu (Maros), Silajak (Selayar), Laiya, Bangkala, dan sebagainya. Bahkan dari beberapa kajian berdasarkan dokumen bangsa asing menunjukkan, bahwa Kerajaan Siang telah berkembang pesat dalam kegiatan perdagangan. Bahkan Kerajaan Gowa dan Tallo pernah berada dalam pengaruh kekuasaannya. Menurut Manoel Pinto, seorang Portugis yang mengunjungi Siang (1545), penduduk Siang berjumlah sekitar 40.000 orang. Jumlah yang sangat banyak bagi kehidupan suatu Bandar niaga ketika itu.
Sumber : Ensiklopedia Sejarah Sulsel Sampai Tahun 1905
(Majalah Makassar Terkini Tahun 02 Edisi 33, April 2006, hal.17)
--------------------------------------------------------------------------------
Kota Makassar yang pernah bernama Ujung Pandang adalah wilayah Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo yang terletak pada pesisir pantai sebelah barat semenanjung Sulawesi Selatan. Pada mulanya merupakan bandar kecil yang didiami oleh Suku Makassar dan Bugis yang dikenal sebagai pelaut ulung dengan perahu PHINISI atau PALARI. Jika ditinjau dari sejarah Kerajaan Majapahit dibawah Raja HAYAM WURUK (1350-1389) dengan Maha Patih GAJAH MADA bertepatan dengan masa pemerintahan Raja Gowa ke-II TUMASALANGGA BARAYA (1345-1370), Makasar (Makassar) sudah dikenal dan tercantum dalam lembaran Syair 14 (4) dan (5) Kitab Negarakertagama karangan PRAPANCA (1364) sebagai Daerah ke-VI Kerajaan Majapahit di Sulawesi.
Masa Sejak Berdirinya Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo
1. Kerajaan Gowa berdiri kira-kira tahun 1300 Masehi dengan raja yang pertama adalah seorang perempuan bernama TUMANURUNG (1320-1345) yang kawin dengan KARAENG BAYO berasal dari Bonthain yang menurunkan raja-raja Gowa selanjutnya.
2. Pusat Kerajaan Gowa ini terletak diatas bukit Takka'bassia yang kemudian berubah namanya menjadi Tamalate, tempat ini menjadi pusat Kerajaan Gowa sampai kepada masa pemerintahan Raja Gowa ke-VIII I-PAKERE TAU TUNIJALLO RI PASSUKKI (1460-1510).
3. Dalam masa pemerintahan Raja Gowa ke-VI TUNATANGKA LOPI 1445-1460) terjadi pembagian kerajaan, yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo, masing-masing dipegang oleh kedua puteranya yaitu Kerajaan Gowa dipegang oleh BATARA GOWA TUNIAWANGA RI PARALEKKANNA sebagai Raja Gowa ke-VII (1460) dan Kerajaan Tallo dipegang oleh KARAENG LOE RI SERO sebagai Raja Tallo Pertama.
4. Raja Gowa ke-IX DAENG MATANRE KARAENG MANGNGUNTUNGI yang bergelar TUMAPA'RISI KALLONA kedua kerajaan Gowa dan Tallo disatukan kembali dan diperintah oleh Raja Gowa, dan yang menjadi Mangkubumi adalah Raja Tallo. Kedua kerajaan ini sering disebut Kerajaan Makassar.
5. Pembangunan Benteng Somba Opu dari tanah liat pada tahun 1525 oleh Raja Gowa ke-IX TUMAPA'RISI KALLONNA (1510-1546). Dalam benteng ini dibanguna istana raja Gowa. Makassar (Kerajaan Gowa) menjadi pusat bandar niaga dengan syahbandar adalah DAENG PAMMATE yang diangkat pada tahun 1538. Sejak itu Makassar menjadi Ibu Negeri, dengan bertitik pusat pada Kota Raja Somba Opu.
6. Raja Gowa ke-X I-MANRIWAGAU DAENG BONTO KARAENG LAKIUNG TUNIPALLANGGA ULAWENG (1546-1565) Benteng Somba Opu disempurnakan dan dibangun dari batu bata.
7. Benteng Jumpandang (Ujung Pandang) yang mulai didirikan pada tahun 1545 pada masa pemerintahan TUMAPA'RISI KALLONNA kemudian dilanjutkan oleh TUNIPALLANGGA ULAWENG, maka oleh Raja Gowa SULTAN ALAUDDIN pada tanggal 9 Agustus 1634 membuat dinding tembok Benteng Ujung Pandang, dan pada tanggal 23 Juni 1635 dibuat lagi dinding tembok kedua dekat pintu gerbang sehingga menyerupai seekor penyu.
8. Raja Gowa ke-XIV I-MANGNGARANGI DAENG MANRABIA dengan gelar SULTAN ALAUDDIN memerintah mulai tahun 1593-1639 dengan Mangkubumi I-MAL-LINGKAANG DAENG MANYONRI KARAENG KATANGKA yang juga sebagai Raja Tallo. Beliaulah yang mula-mula memeluk Agama Islam di Sulawesi Selatan bertepatan pada malam Jumat tanggal 22 September 1605 atau 9 Jumadil-awal 1014 (H). Adapun yang meng-islamkan kedua raja tersebut dan penduduk Kerajaan Gowa-Tallo adalah ABDUL MA'MUR KHATIB TUNGGAL atau DATO' RI BANDANG yang berasal dari Minangkabau Sumatra Barat yang tiba di Tallo (Makassar) pada bulan September 1605. Pada hari Jumat, tanggal 9 Nopember 1607 diadakanlah sembahyang Jumat pertama di Mesjid Tallo dan dinyatakan penduduk Kerajaan Gowa-Tallo telah memeluk Agama Islam dan sebagai agama resmi, bersamaan pula diadakan sembahyang Jumat di Mesjid Mangallekana di Somba Opu. Pada masa beliau dibangun pula Benteng Panakukang yang terletak antara Somba Opu dengan Barombong.
9. Pada tahun 1596 Belanda dibawah pimpinan CORNELIS DE HOUTMAN dan DE KEYZER mulai menginjakkan kakinya di pelabuhan Banten dan mengadakan perjanjian persahabatan dengan Mangkubumi Kerajaan Banten, dan disusul satu rombongan dibawah pimpinan JACOB VAN NECK dan VAN WAERWIJCK yang tiba pada tanggal 28 November 1598. Tanggal 20 Maret 1602 VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie) didirikan.
10. Belanda mulai menanam pengaruhnya di Kerajaan Gowa dengan membuka kantor dagang Belanda pada tahun 1607 dikepalai oleh CLAES LEURSEN yang merupakan orang Belanda pertama menetap di Makassar. serta membangun loji disebelah utara Benteng Ujung Pandang dan diberi nama Stad Vlaardingen. Dalam tahun 1632 seorang bangsawan Melayu, yaitu DATUK MAHARAJALELA beserta dua kemanakannya suami isteri datang menetap di Gowa, dan oleh orang-orang Melayu mengangkat DATUK MAHARA-JALELA sebagai Kepala orang-orang Melayu.
11. Setelah SULTAN ALAUDDIN meninggal dunia, beliau digantikan oleh anaknya yaitu SULTAN MALIKUSSAID yang menjadi Raja Gowa ke-XV (14 Juni 1639 sampai 16 Nopember 1653) dengan Mangkubumi I-MANGADA'CINA DAENG SITABA KARAENG PATTINGALLOANG. SULTAN MALIKKUSAID meninggal dunia pada tanggal 5 Nopember 1653.
12. SULTAN MALIKUSSAID digantikan oleh putranya yaitu I-MALLOMBASSI DAENG MATTAWANG KARAENG BONTO MANGAPPE, dengan gelar SULTAN HASANUDDIN, lahir pada tanggal 12 Januari 1631. SULTAN HASANUDDIN mulai memerintah dari tanggal 16 Nopember 1653 - 29 Agustus 1669 dengan pusat kerajaan tetap di Benteng Somba Opu. Yang menjadi Mangkubumi adalah KARAENG KARUNRUNG yang bertempat tinggal di Bontoala.
13. Antara tahun 1655 sd. 1669 terjadi peperangan antara Kerajaan Gowa dibawah SULTAN HASANUDDIN dengan VOC. Benteng Ujung Pandang direbut oleh VOC pada hari Selasa, tanggal 18 Nopember 1667, dengan kekalahan tersebut dibuatlah Perjanjian Bungaya (Het Bongaisch Verdrag) antara Kerajaan Gowa dengan VOC, kemudian Benteng Ujung Pandang digantinamanya oleh Admiral CORNELIS JANSZOON SPEELMAN menjadi Port Rotterdam dan kemudian ditempati oleh Belanda sebagai pusat pemerintahan militer dan sipil.
14. Benteng Somba Opu direbut oleh VOC pada hari Jumat, tanggal 24 Juni 1669. Pemerintahan Kerajaan Gowa dipindahkan ke Benteng Ana' Gowa di Taenga seberang Sungai Jeneberang.
15. Pada waktu ABDUL JALIL menjadi Raja Gowa ke-XIX (1677-1709) beberapa bangsawan dan penduduk Kerajaan Gowa meninggalkan Gowa dan pindah menetap di sebelah selatan Benteng Ujung Pandang yang kemudian tempat ini menjadi Kampung Beru (Kampung Baru). Disamping itu juga beberapa kampung yang telah ramai dan sebagian menjadi pengaruh dan dikuasai oleh ARU PALAKKA adalah Bontoala, Wajo, Lariangbangngi, Maccini, Maradekaya, Mamajang, Miri (Jongaya), Pannampu, Gaddong, Bara (Baraya), Pattunuang, Melayu.
16. Pada tanggal 31 Desember 1799 VOC berakhir. Pemerintahan koloni Belanda di Hindia Timur (Oost Indie) dijalankan berdasarkan Staatsregeling 801 yang telah mengalami beberapa kali perubahan terakhir dengan Regerings Reglement (RR) 1815.
17.
Pada tahun 1811 terjadi perobahan penguasa dari Pemerintah Belanda kepada Pemerintah Inggeris dibawah Letnan Gubernur Jenderal THOMAS STAMFORD RAFFLES, setelah serdadu Inggeris mendarat di Cilincing pada tanggal 10 Agustus 1811 dibawah pimpinan Jenderal AUCHMUTY yang akhirnya pada tanggal 18 September 1811 Belanda menyerah. Pemungutan pajak mulai diberlakukan pada tahun 1813 antara lain pajak tanah (landrente).
18. Pada tahun 1816 Pemerintah Belanda kembali berkuasa di Hindia Belanda berdasarkan Konvensi London tahun 1814, penyerahan kekuasaan baru dilaksanakan pada tanggal 11 Desember 1816.
Untuk pertama kalinya, tanggal 9 November 2000, hari jadi Makassar yang ke-393 tahun diperingati, dan untuk seterusnya, bukan lagi tanggal 1 April seperti yang telah diperingati pada tahun-tahun yang lalu.
Mengapa ?
Prof.DR. H.A.Mattulada (Alm) dalam bukunya yang berjudul : Menyusuri Jejak Kehadiran MAKASSAR dalam SEJARAH menulis sbb : menyusuri kembali jejak-jejak kehadiran Makassar sebagai term, dalam lintas sejarah yang dimulai pada abad Nagarakertagama, jaman Patih Gajah Mada di Majapahit, atau sedikit menjangkau kedepannya ketika tenggelamnya Kerajaan Sriwijaya, Singasari dibawah Raja Kertanegara (1254-1292), maka dapatlah kita mengambil beberapa kesimpulan bahwa konsepsi Makassar atau Mangkasara : itu mengandung sekurang-kurannya 3 macam pengertian, yaitu :
1.
Makassar sebagai group etnis, (suku bangsa indonesia) yang berdiam di sepanjang pesisir selatan jazirah Sulawesi Selatan, yang mempunyai bahasa dan peradaban sendiri yang hidup sampai sekarang.
2.
Makassar sebagai sebutan kepada Kerajaan Kembar Gowa Tallo dengan nama Kerajaan atau Kesultanan Makassar, sebagai sebuah kerajaan yang paling berpengaruhi di Sulawesi atau bagian timur Indonesia dalam abad XVI-XVII.
3.
Makassar sebagai ibukota kerajaan, bandar niaga yang tumbuh setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis dalam tahun 1511 dan dijadikannya pusat terdepan kerajaan Makassar yang mewadahi benteng-benteng Somba Opu, Panakkukang dan benteng Ujung Pandang (Jumpandang).
Walikota Makassar (1946 s.d. 2009)
ABD. HAMID DG. MAGASSING (Alm)
Masa Jabatan : 1946 s.d. 1947
--------------------------------------------------------------------------------
I. M. QAEMUDDIN (Alm)
Masa Jabatan : 1946 s.d. 1947
--------------------------------------------------------------------------------
SAMPARA DG. LILI (Alm)
Masa Jabatan : 1951 s.d. 1952
--------------------------------------------------------------------------------
ACHMAD DARA SYARUDDIN (Alm)
Masa Jabatan : 1952 s.d. 1956
--------------------------------------------------------------------------------
H. M. YUNUS DG. MILE (Alm)
Masa Jabatan : 1956 s.d. 1957
--------------------------------------------------------------------------------
ABDUL LATIEF DG. MASSIKKI (Alm)
Masa Jabatan : 1958 s.d. 1961
--------------------------------------------------------------------------------
H. AROEPALA (Alm)
Masa Jabatan : 1961 s.d. 1965
--------------------------------------------------------------------------------
H. M. PATOMPO (Alm)
Masa Jabatan : 1965 s.d. 1978
--------------------------------------------------------------------------------
A B U S T A N (Alm)
Masa Jabatan : 1978 s.d. 1983
--------------------------------------------------------------------------------
H. JANCY RAIB (Alm)
Masa Jabatan : 1983 s.d. 1988
--------------------------------------------------------------------------------
S U W A H Y O (Alm)
Masa Jabatan : 1988 s.d. 1993
--------------------------------------------------------------------------------
H. A. MALIK B. MASRY, SE., M.Si.
Masa Jabatan : 1993 s.d. 1999
--------------------------------------------------------------------------------
Drs. H. B. AMIRUDDIN MAULA, SH., M.Si.
Masa Jabatan : 1999 s.d. 2004
--------------------------------------------------------------------------------
Ir. H. ILHAM ARIEF SIRADJUDDIN, MM.
Masa Jabatan : 2004 s.d. 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar